Sebuah Gigs yang Membantu Membuka Pintu Lama yang Tertutup
Kemarin, hidupku berjalan seperti biasanya—tanpa rencana, tanpa firasat apa pun. Hingga sebuah pesan muncul di layar ponselku menyebut namanya, nama yang sudah bertahun-tahun tidak singgah di hari-hariku sejak kami lulus SMA. Ia mengirimiku undangan, formal tapi hangat untuk datang ke sebuah acara yang ia selenggarakan. Sebuah event yang memadukan pameran seni dan gigs kecil-kecilan yang dirangkai dalam satu malam. Aku tidak langsung membalas. Bukan ragu padanya—lebih karena pertemuan setelah bertahun-tahun punya cara sendiri untuk membuat dada terasa penuh. Namun rasa penasaran perlahan mendorongku untuk datang. Ada sesuatu yang sulit kugambarkan, seperti kesempatan kecil untuk menutup halaman lama dengan lebih tenang. Saat tiba di venue, suasananya hangat dan penuh warna. Ruangan itu dipenuhi karya seni yang memantulkan berbagai cerita, sementara panggung kecil di ujung ruangan mulai sibuk mempersiapkan musik malam itu. Dan di antara keramaian, di antara suara orang-orang dan la...