Begitulah rindu, ia menjebak siapa saja
Bukankah seharusnya, kita selesai saja sampai sini? apakah tak ada cara membunuh rindu yang selalu terburu-buru? Rupanya, kita terlalu nakal untuk menjamah rindu. Setiap malam, kita diam-diam menginginkan (sepertinya). Kau merayuku dengan menitipkan pesan lewat bintang-bintang yang berjatuhan di kamarku. Aku kelabakan, mengumpulkan rindu yang kau punya, juga keinginan yang menantang asmara. Tetapi, pernahkah kita saling bertanya, bahwa gairah yang kita punya adalah jalan panjang menuju kekalahan? kita sudah kalah sebab berkhianat pada cinta, pada kata setia yang selalu kita ucapkan. Namun, apakah kata setia tak berdaya di hadapan kenikmatan? Oh puan... malang benar nasib kita. Sudah berkali-kali kita mencoba, namun tak pernah ada keberanian untuk mengakhiri. Kita hanya bisa nekat untuk selalu memulai, membiarkan segala romansa menggantung kebingungan, lalu mengulangi lagi semua kesakitan yang tiba. Bukankah seharusnya kita selesai saja sampai di sini? apakah tak ada cara untuk mem...