Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2023

Hilang komunikasi

Aku benci saat tiba-tiba kita saling diam. Saling menjauh dan bahkan di internet kita seperti bocah di Timezone yang saling sikut dan berebut wahana permainan. Kita melupakan banyak scene di kepala. Membungkamnya dengan cara paling paksaa. Kita seolah saling memberi tanda "Jangan dekat-dekat!" Padahal rasanya, baru kemarin kita sedekat itu ya?  :) Kini tak kutemukan kau berseliweran di ponselku. Dan sejujurnya aku selalu memaksa diriku untuk tidak peduli dengan itu sebab kau memang tak terjangkau. Kau tak terengkuh, dan kau begitu jauh.  Lalu pada akhirnya, aku menyadari satu hal dari semua; bahwa mungkin memendam perasaan itu adalah cara paling romantis untuk mati pelan-pelan. Cara paling bijak untuk tidak lagi percaya dengan harapan. Dan kau tau apa yang paling kacau dari semua ini? Bahwa meski kita hilang komunikasi, kau malah datang di mimpi. Huh

Pujangga

 Namaku adalah manusia, Agamaku adalah cinta, Usiaku adalah dewasa, Kekasihku adalah fana, Yang dielu-elukan kehidupan, Yang dirindukan kematian, Dan hidup dari kesementaraan, Lalu mati dari riuhnya tepuk tangan. Jika nanti hari oenghakiman nanti itu terjadi, Ada yang bersaksi dengann senang hati, Berkata dihadapan seluruh makhluk bumi, Aku ingin bersandar padamu bukan pada ideologi -Erwanekas  Jakarta, 19 Oktober 2023

Menunggu

        Tentang kapan saya menunggunya? jawabannya; sampai saya ketahui bahwa bukan saya lagi yang menjadi tujuannya pulang. Iya, menyayanginya memang membuat saya terus menerus tersiksa, setiap malam terasa sesak di dada karena merindukannya, setiap malam melawan pikiran sendiri karena cemas akan kabarnya, setiap malam bertanya-tanya apakah besok perasaannya masih untuk saya atau tidak?. Namun saya tidak peduli, selama saya belum dengar dia mengucap pamit, selama itu pula saya rela bertahan dalam rasa sakit.     Akan saya perbaiki diri saya, agar dimatanya saya layak. Akan saya berusaha kebih keras, agar dimatanya saya pantas. Akan saya kuatkan hati saya, agar saya mampu menjadi penopang segala kesedihannya. Tapi, bagaimana bila bukan saya yang dipilih? Bagaimana bila bukan saya rumah  tempat dia menetap? Bagaimana bisa perasaannya bermuara pada seseorang yang lain? Saya akan berhenti menuggunya. Saya akan mengganti rasa sayang  menjadi doa-...