Ungu
aku membelinya seperti orang yang percaya pada hal kecil, yang bisa mengubah arah hidup, kalung bintang bermata ungu tergantung rapuh, seperti janji yang belum tahu cara menepati diri hari itu kau datang dengan tawa yang tidak meminta izin dan aku—bodoh yang sedang jatuh cinta— melepasnya dari leherku, tanpa curiga apa pun kau meminjamnya, katamu hanya sebentar, tapi “sebentar” ternyata punya kaki dan ia berjalan lebih jauh dari kita kalung itu menempel di lehermu, seperti malam yang menemukan rumah baru, sementara aku berdiri tanpa apa-apa, kecuali rasa yang belum sempat dinamai kehilangan lalu kau menghilang, tidak dramatis, tidak pecah, hanya seperti halaman yang tiba-tiba tidak lagi ada lanjutannya, meninggalkan aku di kalimat yang menggantung bulan-bulan lewat seperti debu di kaca aku belajar menghapus bayangan tanpa menyentuhnya hingga suatu hari, tanpa sengaja aku melihatnya lagi kalung itu bintang bermata ungu yang dulu kupilih dengan hati-hati...