Menunggu
Tentang kapan saya menunggunya? jawabannya; sampai saya ketahui bahwa bukan saya lagi yang menjadi tujuannya pulang. Iya, menyayanginya memang membuat saya terus menerus tersiksa, setiap malam terasa sesak di dada karena merindukannya, setiap malam melawan pikiran sendiri karena cemas akan kabarnya, setiap malam bertanya-tanya apakah besok perasaannya masih untuk saya atau tidak?. Namun saya tidak peduli, selama saya belum dengar dia mengucap pamit, selama itu pula saya rela bertahan dalam rasa sakit.
Akan saya perbaiki diri saya, agar dimatanya saya layak.
Akan saya berusaha kebih keras, agar dimatanya saya pantas.
Akan saya kuatkan hati saya, agar saya mampu menjadi penopang segala kesedihannya.
Tapi, bagaimana bila bukan saya yang dipilih?
Bagaimana bila bukan saya rumah tempat dia menetap?
Bagaimana bisa perasaannya bermuara pada seseorang yang lain?
Saya akan berhenti menuggunya. Saya akan mengganti rasa sayang menjadi doa-doa perihal kebahagiaannya. Saya akan menghapus rindu-rindu saya. Saya akan belajar menerima kepergiaannya. Meski, pada baris kalimat ini yang saya tulis miring, ada air mata yang jatuh hingga mengering
-erwanekas
Komentar
Posting Komentar