Laki-laki dan Sejuta Kekurangannya

Sore tadi aku melihat sebuah tulisan yang cukup sakit sekali untuk dibaca, hingga komentar yang ada di postingan itu juga tak kalah menyakitkan; 

[Dari semua jenis ilfeel, rasa ilfeel tertinggi jatuh kepada cowo yang selalu bilang "aku orang susah ga kaya kamu, aku gak punya uang, gak punya apa-apa"]

Lalu aku melihat ke arah komentar yang cukup menampar diri sendiri;

"Aku  lebih suka cowo itu berusaha dibanding banyak ngeluhnya"

"Geli banget liat cowo sedikit-sedikit ngeluh insecure, sedikit-sedikit ngeluh tentang keluarganya, ngeluh tentang kerjaannya, ngeluh tentang hidupnya"

Emang salah ya, laki-lakimu mengeluhkan dunianya kepadamu?

Emang salah ya, laki-lakimu menceritakan kekurangannya kepadamu?

Emang seburuk itu ya, nasib seorang laki-laki yang masih berproses?

Emang ngejelasin kondisi hidupnya, kepada perempuan yang ia sayang, merendahkan harga diri laki-laki?

Menyakitkan yaa, saat ingin menyuarakan lelahnya hidup, tapi malah dianggap minta dikasihani. Sedangkan perempuan saat ia mengeluh harus didengar, dikasih saran yang baik, bahkan ketika kakinya digigit semut saja, laki-laki harus excited menanggapi keluhannya. Hingga dititik sang perempuan insecure dengan hidupnya, laki-laki harus menanggapi dengan perkataan yang lemah, lembut, untuk menguatkannya kembali.

Laki-laki juga tak boleh bosan dengan cerita yang ingin disampaikan oleh wanitanya, sekalipun sudah diulangi puluhan kali, kita tetap saja harus mendengarnya tanpa boleh mengatakan;

"Cerita itu terus, untuk berkali-kali"

Berbicara itu saja, kita sudah dianggap manusia yang paling jahat didalam hidupnya.

Laki-laki bahkan tidak pernah memikirkan dirinya saat ingin merayakan perempuannya. Rela menabung demi memberi hadiah untuk wanitanya, rela menyederhanakan hidupnya demi memenuhi inner child wanitanya. Tapi laki-laki kadang mengeluh saja sudah dianggap menjijikan, sampai ada yang ilfeel. Bukankah bagus jika sejak awal, laki-lakimu jujur akan kehidupannya, agar apa? agar engkau tidak berekspetasi tinggi kepadanya.

Dia mau mengusahakanmu, dia mau membahagiakanmu, tapi adakalanya, ia merasa ingin menceritakan semua lelah yang ia hadapi selama ini, yang bahkan kepada orangtuanya sendiri ia tak bisa mengatakannya.

Kau tidak pernah tau isi kepala laki-lakimu, yang dipenuhi jutaan kekhawatiran.

Ia takut sekali prosesnya akan membuatmu jenuh menunggu. Ia takut sekali keadaan dirinya tidak akan diterima oleh kedua orangtuamu. Ia takut sekali dibuang oleh wanitanya saat ada laki-laki lain yang jauh lebih mampu menawarkan masa depan kepada wanitanya, dan ia sangat takut harus kehilanganmu karena keterbatasana dirinya.

Apakah pernah kau memikirkan hati seorang laki-laki yang saat dia bekerja saja kau masih mencari masalah dengannya? dan, disaat itu juga ia masih mampu menjaga hatimu agar tidak tersinggung, padahal dia bisa saja membentakmu, saat lelahnya bekerja dihantam dengan rindumu yang mengajaknya berdebat.

Maka beruntung sekali seorang laki-laki yang bertemu dengan perempuan yang pembawaannya tenang, pemikirannya lapang, dan selalu men-support laki-lakinya. Mau diajak bicara, mau mendengar keluhan laki-lakinya disaat berada di titik terendah. Tak banyak yang seperti ini, tapi pasti ada.

Kamu yang ini ditinggalkan perempuanmmu hanya karena kekurangan yang kau miliki, tetaplah kuat, tetaplah berbenah, semoga saja nantinya kamu bertemu perempuan yang mau menghargaimu sepenuhnya

—sebuahjurnal, wan

Komentar