Begitulah rindu, ia menjebak siapa saja

 Bukankah seharusnya, kita selesai saja sampai sini? apakah tak ada cara membunuh rindu yang selalu terburu-buru?

Rupanya, kita terlalu nakal untuk menjamah rindu. Setiap malam, kita diam-diam menginginkan (sepertinya). Kau merayuku dengan menitipkan pesan lewat bintang-bintang yang berjatuhan di kamarku. Aku kelabakan, mengumpulkan rindu yang kau punya, juga keinginan yang menantang asmara.

Tetapi, pernahkah kita saling bertanya, bahwa gairah yang kita punya adalah jalan panjang menuju kekalahan? kita sudah kalah sebab berkhianat pada cinta, pada kata setia yang selalu kita ucapkan. Namun, apakah kata setia tak berdaya di hadapan kenikmatan?

Oh puan... malang benar nasib kita. Sudah berkali-kali kita mencoba, namun tak pernah ada keberanian untuk mengakhiri. Kita hanya bisa nekat untuk selalu memulai, membiarkan segala romansa menggantung kebingungan, lalu mengulangi lagi semua kesakitan yang tiba. Bukankah seharusnya kita selesai saja sampai di sini? apakah tak ada cara untuk membunuh rindu yang selalu terburu-buru?

"Namun, sejauh apapun aku menjadi berani, kita hanya akan berakhir pada makam kenangan yang kelak akan kau lupakan, bukan? atau, kita terlalu pengecut untuk temu?"

"tak bisakah kau juga berhenti meniadakan apa yang bermusim di hatimu, sebagaimana tubuhmu bereaksi untuk tubuhku. Saat kita satu padu, bercumbu hingga aroma cinta menguar dan jantung penuh berdebar."

"aku tau banyak kekalahan akan tiba dari kehidupan sosial yang sialan. Tapi memenangkan kita sebagai selamanya, bukankah terasa impas? tak ada lagi batas, tak ada sekat, dan tak ada bimbang yang menggantung di setiap ciuman."

"Kita penuh dan satu."

"Tuan, aku tak tau lagi cara menawarkan bagaimana meniadakan rindu yang kelewat keparat. Selalu tiba di ujung petang dan menolak berakhir bahkan saat mata terpejam. Bahkan di sela-sela malam yang sunyi, penuh kesadaran, kau tetap hati yang ingin ku miliki, tanpa tetapi. Namun sejauh apapun aku berani, kita hanya akan berakhir pada makam kenangan yang kelak kau lupakan, bukan?"




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Gigs yang Membantu Membuka Pintu Lama yang Tertutup

Tapi Rumah Hanya Kata Benda

Tak Kurang Tak Lebihny Ku Damai