Ungu

aku membelinya seperti orang yang percaya pada hal kecil,
yang bisa mengubah arah hidup,
kalung bintang bermata ungu
tergantung rapuh, seperti janji yang belum tahu cara menepati diri


hari itu kau datang
dengan tawa yang tidak meminta izin
dan aku—bodoh yang sedang jatuh cinta—
melepasnya dari leherku, tanpa curiga apa pun


kau meminjamnya,
katamu hanya sebentar,
tapi “sebentar” ternyata punya kaki
dan ia berjalan lebih jauh dari kita


kalung itu menempel di lehermu,
seperti malam yang menemukan rumah baru,
sementara aku berdiri tanpa apa-apa,
kecuali rasa yang belum sempat dinamai kehilangan


lalu kau menghilang,

tidak dramatis, 

tidak pecah,

hanya seperti halaman yang tiba-tiba tidak lagi ada lanjutannya,

meninggalkan aku di kalimat yang menggantung


bulan-bulan lewat seperti debu di kaca
aku belajar menghapus bayangan tanpa menyentuhnya
hingga suatu hari, tanpa sengaja
aku melihatnya lagi


kalung itu
bintang bermata ungu yang dulu kupilih dengan hati-hati
masih ada di leher yang sama


tapi bukan kau


kau berdiri di samping orang lain
tertawa seperti tidak pernah ada malam yang kita bagi
seperti tidak pernah ada benda kecil yang pernah menjadi jembatan antara dua nama


dan saat itu aku mengerti
bukan kalung yang hilang
kalng itu sudah tidak memilih aku sebagai tempat pulangnya


ia tetap bersinar
hanya saja kini ia menjadi saksi

(................................................)

isi sendiri

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Gigs yang Membantu Membuka Pintu Lama yang Tertutup

Tapi Rumah Hanya Kata Benda

Tak Kurang Tak Lebihny Ku Damai