Pendengar Setia-nya

 Akhirnya aku menyadari, sejatinya kita ini terlalu banyak main perasaan. Ya meskipun, kau tak menganggap demikian. Kau memberiku info detail perihal kegiatanmu, kisah asmaramu, rahasia tergelapmu, dan tentu saja air matamu. Sementara aku, cuma bisa menyediakan telinga yang entah mengapa aku sangat betah melakukannya.


Mendengar ceritamu, sudah jadi ritual yang haram hukumnya ditinggalkan.


Lalu lewat voice note, stiker lucu, dan ketikan cantikmu, sejujurnya menumbuhkan bunga-bunga di tubuhku. Aku merasa nyaman dan itu terus melahirkan rindu—ketika misalnya kau menyimpulkan senyum atau mengerenyitkan dahi. 


Dan aku tak pernah menyalahkan diriku atas aku yang cuma jadi pendengar setiamu.


Kita akan bersikap seperti biasa, toh? Menebar canda, saling berbagi hal seru, pergi ke cafe membuang kepenatan atau bercerita tidak penting untuk meredakan pusing.


Kita, ah.. aku lebih tepatnya, tak pernah berhak menamakan hubungan ini.


Sebab aku memang bukan orang yang cakap mengatasi perasaan satu arah. 


-erwanekas


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Gigs yang Membantu Membuka Pintu Lama yang Tertutup

Tapi Rumah Hanya Kata Benda

Tak Kurang Tak Lebihny Ku Damai