Postingan

Pendengar Setia-nya

 Akhirnya aku menyadari, sejatinya kita ini terlalu banyak main perasaan. Ya meskipun, kau tak menganggap demikian. Kau memberiku info detail perihal kegiatanmu, kisah asmaramu, rahasia tergelapmu, dan tentu saja air matamu. Sementara aku, cuma bisa menyediakan telinga yang entah mengapa aku sangat betah melakukannya. Mendengar ceritamu, sudah jadi ritual yang haram hukumnya ditinggalkan. Lalu lewat voice note, stiker lucu, dan ketikan cantikmu, sejujurnya menumbuhkan bunga-bunga di tubuhku. Aku merasa nyaman dan itu terus melahirkan rindu—ketika misalnya kau menyimpulkan senyum atau mengerenyitkan dahi.  Dan aku tak pernah menyalahkan diriku atas aku yang cuma jadi pendengar setiamu. Kita akan bersikap seperti biasa, toh? Menebar canda, saling berbagi hal seru, pergi ke cafe membuang kepenatan atau bercerita tidak penting untuk meredakan pusing. Kita, ah.. aku lebih tepatnya, tak pernah berhak menamakan hubungan ini. Sebab aku memang bukan orang yang cakap mengatasi perasaan ...

Sore ini hujan

 Sore ini hujan; kenangan soal sakit itu menggenang. Ku hisap lagi rokok kesekian, agar reda kedinginan. Sedang kau di sana rapih menyusun alur kebohongan. Agar paling tidak aku percaya padamu--yang bersikukuh masih ingin berpegang tangan.  "Hubungan ini salah, pergilah. Kapanpun kau suka. Aku tak apa." Kataku sambil memeras sore. "Aku masih mau di sini, bersamamu, melewati purnama yang tak pernah kita tau kapan muncul" Jawabmu sambil meremas malam.  Lalu sekian purnama telah gugur, kau masih dengannya dan kita masih bersama. Kita saling masih bertatap mata melalukan segalanya berdua. Meski kita tau, akan ada luka baru didepan sana. Ya, pada akhirnya. Kau akan memilih dia.  Jadi, kenapa aku harus ada?  -erwanekas

Jakarta itu menyenangkan sekaligus...

 Kita pernah membuat romansa di Jakarta, lewat susunan agenda yang selalu menyenangkan. Kita membuat itinerary kita sendiri ditengah tugas kuliah yang sialan. Dari utara sampai selatan; kita meninggalkan jejak di setiap pemberhentian.  Kau ingat malam di pinggir jalan Bulungan? sedikit gerimis kala itu. kau memakai hoodie hitam yang ternyata tak mampu menahan gigilnya udara.  "Aku mau wedang ronde" katamu. Sementara di balik awan dan pepohonan, Monas mengintip malu-malu; ia jadi bukti bahwa hangatnya kebersamaa kita bisa mengalahkan gigilnya udara. Sebelum tengah malam, kita menuju Kemang. Ada gudeg paling enak siap menyuplai tenaga diantara pertigaan kemang 1.  "Nasinya setengah aja ya, bu" katamu selalu. Dan selepas dini hari, kita kembali pada tempat masing-masing. Aku di Gandaria Jingga, kau di Perumahan Dokter. Kita sama-sama menanam rindu. Sama-sama memimpikan bisa bangun pagi bersama. Sama-sama bisa melihat sore dan pagi di teras rumah berdua.  Tapi lama-...

Hilang komunikasi

Aku benci saat tiba-tiba kita saling diam. Saling menjauh dan bahkan di internet kita seperti bocah di Timezone yang saling sikut dan berebut wahana permainan. Kita melupakan banyak scene di kepala. Membungkamnya dengan cara paling paksaa. Kita seolah saling memberi tanda "Jangan dekat-dekat!" Padahal rasanya, baru kemarin kita sedekat itu ya?  :) Kini tak kutemukan kau berseliweran di ponselku. Dan sejujurnya aku selalu memaksa diriku untuk tidak peduli dengan itu sebab kau memang tak terjangkau. Kau tak terengkuh, dan kau begitu jauh.  Lalu pada akhirnya, aku menyadari satu hal dari semua; bahwa mungkin memendam perasaan itu adalah cara paling romantis untuk mati pelan-pelan. Cara paling bijak untuk tidak lagi percaya dengan harapan. Dan kau tau apa yang paling kacau dari semua ini? Bahwa meski kita hilang komunikasi, kau malah datang di mimpi. Huh

Pujangga

 Namaku adalah manusia, Agamaku adalah cinta, Usiaku adalah dewasa, Kekasihku adalah fana, Yang dielu-elukan kehidupan, Yang dirindukan kematian, Dan hidup dari kesementaraan, Lalu mati dari riuhnya tepuk tangan. Jika nanti hari oenghakiman nanti itu terjadi, Ada yang bersaksi dengann senang hati, Berkata dihadapan seluruh makhluk bumi, Aku ingin bersandar padamu bukan pada ideologi -Erwanekas  Jakarta, 19 Oktober 2023

Menunggu

        Tentang kapan saya menunggunya? jawabannya; sampai saya ketahui bahwa bukan saya lagi yang menjadi tujuannya pulang. Iya, menyayanginya memang membuat saya terus menerus tersiksa, setiap malam terasa sesak di dada karena merindukannya, setiap malam melawan pikiran sendiri karena cemas akan kabarnya, setiap malam bertanya-tanya apakah besok perasaannya masih untuk saya atau tidak?. Namun saya tidak peduli, selama saya belum dengar dia mengucap pamit, selama itu pula saya rela bertahan dalam rasa sakit.     Akan saya perbaiki diri saya, agar dimatanya saya layak. Akan saya berusaha kebih keras, agar dimatanya saya pantas. Akan saya kuatkan hati saya, agar saya mampu menjadi penopang segala kesedihannya. Tapi, bagaimana bila bukan saya yang dipilih? Bagaimana bila bukan saya rumah  tempat dia menetap? Bagaimana bisa perasaannya bermuara pada seseorang yang lain? Saya akan berhenti menuggunya. Saya akan mengganti rasa sayang  menjadi doa-...

Pesan Untukmu

Gambar
Apa yang aku bilang ini mungkin terdengar terlalu naif sekaligus munafik. Jadi, kau bisa menghardik atau menoyor kepalaku. Tenang, aku tak akan marah. Dan ini untukmu, orang yang sempat ku beri tanda love di kontak ponselku.  ….. Aku peduli padamu. Tolong itu digaris-bawahi dulu. Aku sempat khawatir saat beberapa storymu. Bukan saat kau sedang hepi-hepi ya. Tapi saat kau didekati laki-laki lain, aku takut kau lagi-lagi salah pilih pasangan. Ya, aku tahu, aku juga salah satu penyumbang kesalahan terbesar dihidupmu.  Tapi… Why is it so hard to say? Aku tahu, diluar sana banyak sekali yang mengincarmu. Aku tahu banyak lelaki yang ingin masuk ke 24 jam waktumu. Yang aku belum tahu, bahkan mungkin kamu, adalah niatnya. Kau bisa saja menjadi pelampiasan atau tempat singgah. Kalau sobat Gen-Z bilang : dighosting Dan kita selalu gak mau itu terjadi kan? karna aku cukup mengenalmu, maka izinkan aku berpesan: Saat ada yang mendekatimu, ingatlah selalu kebrengsekanku. Ingatlah selalu pad...