Postingan

Ungu

aku membelinya seperti orang yang percaya pada hal kecil, yang bisa mengubah arah hidup, kalung bintang bermata ungu tergantung rapuh, seperti janji yang belum tahu cara menepati diri hari itu kau datang dengan tawa yang tidak meminta izin dan aku—bodoh yang sedang jatuh cinta— melepasnya dari leherku, tanpa curiga apa pun kau meminjamnya, katamu hanya sebentar, tapi “sebentar” ternyata punya kaki dan ia berjalan lebih jauh dari kita kalung itu menempel di lehermu, seperti malam yang menemukan rumah baru, sementara aku berdiri tanpa apa-apa, kecuali rasa yang belum sempat dinamai kehilangan lalu kau menghilang, tidak dramatis,  tidak pecah, hanya seperti halaman yang tiba-tiba tidak lagi ada lanjutannya, meninggalkan aku di kalimat yang menggantung bulan-bulan lewat seperti debu di kaca aku belajar menghapus bayangan tanpa menyentuhnya hingga suatu hari, tanpa sengaja aku melihatnya lagi kalung itu bintang bermata ungu yang dulu kupilih dengan hati-hati...

Sebuah Gigs yang Membantu Membuka Pintu Lama yang Tertutup

Gambar
Kemarin, hidupku berjalan seperti biasanya—tanpa rencana, tanpa firasat apa pun. Hingga sebuah pesan muncul di layar ponselku menyebut namanya, nama yang sudah bertahun-tahun tidak singgah di hari-hariku sejak kami lulus SMA. Ia mengirimiku undangan, formal tapi hangat untuk datang ke sebuah acara yang ia selenggarakan. Sebuah event yang memadukan pameran seni dan gigs kecil-kecilan yang dirangkai dalam satu malam.  Aku tidak langsung membalas. Bukan ragu padanya—lebih karena pertemuan setelah bertahun-tahun punya cara sendiri untuk membuat dada terasa penuh. Namun rasa penasaran perlahan mendorongku untuk datang. Ada sesuatu yang sulit kugambarkan, seperti kesempatan kecil untuk menutup halaman lama dengan lebih tenang. Saat tiba di venue, suasananya hangat dan penuh warna. Ruangan itu dipenuhi karya seni yang memantulkan berbagai cerita, sementara panggung kecil di ujung ruangan mulai sibuk mempersiapkan musik malam itu. Dan di antara keramaian, di antara suara orang-orang dan la...

Tumbuh di Atas Duri

 Aku tak mengingatmu lewat puisi. Aku tak mengingatmu lewat hujan atau sore. Aku tak mengingatmu lewat romansa city light yang membuat malam kita dipenuhi bunga-bunga. Aku mengingatmu lewat irisan luka tanpa jeda. Kesedihan yang pekat, air mata yang kusam, dan kepiluan yang tumpah ruah di selasar perasaanku membuat bahagia kehilangan makna. Dan yang paling menyebalkan adalah aku akan selalu terperangkap di ruang hampa; menyaksikan waktu mengeras sedemikian rupa, dan entah kenapa, hari ini, tak ada lagi ucapan cinta yang bisa ku percaya. Namun aku tetap berdoa. Pun sebelum aku mengirim pesan perihal perlakuanmu yang selalu tak bisa kau eja karena kepalamu sekeras batu sehingga waktu cuma bisa memberiku luka paling runcing.  Luka yang menusuk segala indera.  Luka yang menyengat kepala hingga jadi terasa membosankan.  Luka yang membisankan... kau bisa bayangkan? Dan akhirnya luka membuatku mati rasa.  "Luka. Tiada rasa. Mati rasa" Maka terbanglah, entah ke bahu yan...

Neraka yang Kau Takuti Bersemi dalam Hati

Api itu tak datang dari langit, bukan pula dari lubang-lubang gelap bumi, ia tumbuh perlahaan dalam bisik pada malam sunyi yang tak pernah kita peduli. Bukan jerit, bukan bara, tapi kecewa yang tak sempat terbagi,  dendam yang diam-diam dirawat  dalam pot kecil bernama hati. Kau takut neraka, tapi menolak menatap cermin, padahal luka-luka kecil yang kau beri adalah korek api yang kau nyalakan sendiri. Ia tak menyala di neraka asing, melainkan pada dada yang kau tikam, pada akata yang tak kau ucapkan, dan jannji yang kau bunuh diam-diam. kini lihatlah, bunga-bunga hitam itu mekar di dadamu, wangi seperti pengampunan tapi akarnya dari kemarahan yang membeku. Neraka yang kau takuti tak menunggumu mati,  ia sudah hidup—dan kau sirami sendiri.

Begitulah rindu, ia menjebak siapa saja

 Bukankah seharusnya, kita selesai saja sampai sini? apakah tak ada cara membunuh rindu yang selalu terburu-buru? Rupanya, kita terlalu nakal untuk menjamah rindu. Setiap malam, kita diam-diam menginginkan (sepertinya). Kau merayuku dengan menitipkan pesan lewat bintang-bintang yang berjatuhan di kamarku. Aku kelabakan, mengumpulkan rindu yang kau punya, juga keinginan yang menantang asmara. Tetapi, pernahkah kita saling bertanya, bahwa gairah yang kita punya adalah jalan panjang menuju kekalahan? kita sudah kalah sebab berkhianat pada cinta, pada kata setia yang selalu kita ucapkan. Namun, apakah kata setia tak berdaya di hadapan kenikmatan? Oh puan... malang benar nasib kita. Sudah berkali-kali kita mencoba, namun tak pernah ada keberanian untuk mengakhiri. Kita hanya bisa nekat untuk selalu memulai, membiarkan segala romansa menggantung kebingungan, lalu mengulangi lagi semua kesakitan yang tiba. Bukankah seharusnya kita selesai saja sampai di sini? apakah tak ada cara untuk mem...

Peduli Padaku Kau Bilang? Kentut!

  Kau akan selalu memberikan jawaban paling klasik: bahwa waktu akan menyembuhkanku. Tapi bagaimana jika ternyata aku tak punya cukup waktu untuk benar-benar sembuh? Bagaimana jika sampai tua aku terus dikoyak luka pemberianmu? Dan sesak nafas ini, akan bertahan selamanya. Mengakar sampai ke liang tanah. Kau peduli? Kau cuma memberiku kata sabar dan ikhlas setiap kali aku mengadu. Kau menyarankan untuk memasrahkan diri ke Tuhan atau segera mencari penggantimu. Kau memaksaku untuk meredam isak tangis setiap aku mengingatmu, bahkan ketika aku cuma bilang rindu. Berkali-kali, kau menyuruhku untuk melupakanmu. Bisa kau beritahu caranya? Sungguh, aku ingin tahu. Kau sudah bisa bahagia toh? Lalu… hei! Apakah kau sadar kau itu sudah masuk ke semperempat umurku? Kau mengijinkan aku membersamaimu. Kau bahkan menganggapku lelaki paling istimewa setelah ayahmu. Lalu kau pergi seenak jidat, meninggalkan aku yang patah. Menjadikan aku manusia paling kosong dan tak bahagia di jagat raya. Kau tah...

Tak Kurang Tak Lebihny Ku Damai

Ketika kupergoki bunga-bunga bermekaran di matamu, aku sangat yakin hubungan ini akan berjalan lancar. Belum lagi rayuanku yang selalu kau sambut dengan emoji lucu, membuatku giat penetrasi ke hatimu. Ya, sejak awal aku memang suka padamu. Suka pada cara bicaramu, pada diksi yang kau pilih ketika mengutarakan sesuatu, pada gontai kepala yang kau daratkan di bahuku, juga pada kegembiraan yang kau pancarkan setiap kita bertemu –meski aku juga tahu; kau lihai menyembunyikan luka. “Tapi bukankah luka bisa disembuhkan?” Ujarku dalam hati. Maka dengan dalih mengajakmu nyore di Semesta Gallery, aku mengutarakan niatku. Meluruskan hubungan kita yang lupa diberi nama. “Bukankah ini harus dipatenkan?” kataku di antara sinar senja yang belepotan di pelipismu. Tapi kau bergeming. Matamu menolak tatapanku. Matamu pergi ke suatu masa yang monokrom. “Masa lalumu belum pergi, ya?” Timpalku pada helai rambut yang berserakan di bahumu. Lagi-lagi kau diam. Kau seolah ingin semua yang sudah kita lalui cum...

Tapi Rumah Hanya Kata Benda

Pernah kau dalam sekali waktu tak bisa menghandle semuanya? Menghandle rutinitas pekerjaanmu, yang kemudian bikin gemes tak karuan. Tak masalah bila itu terjadi pada satu hal saja. Yang kubicarakan ini pada banyak hal yang jadi tumpuan pendapatanmu dan every single time kau coba menenangkan diri, justru jadi hantaman paling dahsyat. Lalu, kau duduk di pojokan, merasa memang sudah harusnya pasrah dan berserah. Merasa kau tak layak dengan pekerjaanmu, dan merasa kau hanya remah di semesta yang absrud ini. Sehari, dua hari, satu minggu… semua tak kunjung membaik. Kau merasa salah. Lalu melakukan ritual introspeksi. Kau temukan penyebabnya, saat akan kau selesaikan justru kian memburuk. Oke, kau bisa mengalihkannya dengan nonton film gratisan, mendengarkan lagu, berjalan di pantai atau melihat matahari surut. Sepersekian detik kemudian, semuanya muncul lagi. Lalu kau kebingungan dan mencari rumah untuk singgah.  Tapi rumah hanya kata benda, kau tak bisa menetap, kau hanya bisa istiraha...

Laki-laki dan Sejuta Kekurangannya

Sore tadi aku melihat sebuah tulisan yang cukup sakit sekali untuk dibaca, hingga komentar yang ada di postingan itu juga tak kalah menyakitkan;  [Dari semua jenis ilfeel, rasa ilfeel tertinggi jatuh kepada cowo yang selalu bilang "aku orang susah ga kaya kamu, aku gak punya uang, gak punya apa-apa"] Lalu aku melihat ke arah komentar yang cukup menampar diri sendiri; "Aku  lebih suka cowo itu berusaha dibanding banyak ngeluhnya" "Geli banget liat cowo sedikit-sedikit ngeluh insecure, sedikit-sedikit ngeluh tentang keluarganya, ngeluh tentang kerjaannya, ngeluh tentang hidupnya" Emang salah ya, laki-lakimu mengeluhkan dunianya kepadamu? Emang salah ya, laki-lakimu menceritakan kekurangannya kepadamu? Emang seburuk itu ya, nasib seorang laki-laki yang masih berproses? Emang ngejelasin kondisi hidupnya, kepada perempuan yang ia sayang, merendahkan harga diri laki-laki? Menyakitkan yaa, saat ingin menyuarakan lelahnya hidup, tapi malah dianggap minta dikasihan...

—Harga Yang Harus Aku Bayar Untuk Menjadi Dewasa

Dalam tenangnya aku, aku menyimpan banyak luka yang tak pernah mampu aku jelaskan. Banyak sekali manusia yang telah pergi dari hidupku, menyisakan rasa sakit, trauma, dan kesedihan yang mendalam. Berkali-kali aku menyaksikan orang-orang yang aku cintai, melambaikan tangan, tersenyum di hari terakhirnya hidup. Kehilangan masa jaya orangtua, lalu mengemban tugas yang cukup berat setelah sekolah usai, seakan dunia berputar dengan sangat kejam, memaksaku untuk keluar dari jalan yang telah lama aku nikmati. Kau fikir, aku tidak merasakan sedih setiap kali menulis ? Terkadang aku menangis melihat kebahagiaanku sekarang namun untuk sampai ke titik ini, aku harus merasakan kehidupan yang menyakitkan, dan untuk menemukan diriku yang sekarang, aku harus membunuh diriku di masa lalu -erwanekas

Esok Hari Senin

 Pernahkah kau merenungkan di malam menjelang Senin seperti sekarang, bahwa kau itu rusak. Ada sesuatu dalam dirimu yang membuatmu tak berfungsi dengan baik—meskipun kau masih bisa berkegiatan selayaknya mesin pencetak uang. Kau bermasalah, tapi setiap kau mau menyelesaikan masalah dalam dirimu itu, kau malah tambah rusak. Sampai kau mulai merindukan orang-orang yang kau sayang; memeluknya atau cuma sekedar mendengar wejangannya yang tak pernah kau amini serius.  Mereka memberimu bahan bakar lewat ingatan masalalu. Mau tak mau, kau harus terus berpacu.  "Ayolah! aku bisa menghadapi ini!" katamu dalam hati. Lalu kau ingin menjadi Stoik, tapi tiba-tiba air matamu runtuh. Kau tak bisa apa-apa selain tenggelam dalam layar ponselmu yang dingin.  Kau melihat kebahagiaan disana. Melihat orang-orang melucu. Sesekali tertawa, tapi diam-diam....... Kau mengutuk dirimu sendiri. "Bersujudlah. Tuhan sedang rindu kamu"  ucap Habib Jafar yang membuatmu makin meruntuh.

Suara Keheningan

  Halo kegelapan, teman lamaku Aku datang untuk berbicara denganmu lagi Karena visi merayap dengan lembut Meninggalkan bijinya saat aku sedang tidur Dan visi yang ditanam di otakku Masih tetap dalam suara keheningan Dalam mimpi gelisah aku berjalan sendiri Jalan-jalan sempit dari batu bulat ’di bawah lingkaran cahaya lampu jalan Aku mengubah kerahku menjadi dingin dan lembab Saat mataku ditusuk oleh kilatan lampu neon Itu membelah malam dan menyentuh suara keheningan Dan dalam cahaya telanjang aku melihat Sepuluh ribu orang, mungkin lebih Orang-orang berbicara tanpa berbicara Orang mendengar tanpa mendengarkan Orang-orang yang menulis lagu yang suaranya tidak pernah dibagikan Dan tidak ada yang berani mengganggu suara keheningan “bodoh “, kataku, “kamu tidak tahu Keheningan seperti kanker tumbuh Dengarkan kata-kataku agar aku bisa mengajarimu Pegang tanganku agar aku bisa mencapaimu “ Tapi kata-kataku, seperti tetesan air hujan yang turun Dan bergema di sumur keheningan Dan orang-o...

Pendengar Setia-nya

 Akhirnya aku menyadari, sejatinya kita ini terlalu banyak main perasaan. Ya meskipun, kau tak menganggap demikian. Kau memberiku info detail perihal kegiatanmu, kisah asmaramu, rahasia tergelapmu, dan tentu saja air matamu. Sementara aku, cuma bisa menyediakan telinga yang entah mengapa aku sangat betah melakukannya. Mendengar ceritamu, sudah jadi ritual yang haram hukumnya ditinggalkan. Lalu lewat voice note, stiker lucu, dan ketikan cantikmu, sejujurnya menumbuhkan bunga-bunga di tubuhku. Aku merasa nyaman dan itu terus melahirkan rindu—ketika misalnya kau menyimpulkan senyum atau mengerenyitkan dahi.  Dan aku tak pernah menyalahkan diriku atas aku yang cuma jadi pendengar setiamu. Kita akan bersikap seperti biasa, toh? Menebar canda, saling berbagi hal seru, pergi ke cafe membuang kepenatan atau bercerita tidak penting untuk meredakan pusing. Kita, ah.. aku lebih tepatnya, tak pernah berhak menamakan hubungan ini. Sebab aku memang bukan orang yang cakap mengatasi perasaan ...

Sore ini hujan

 Sore ini hujan; kenangan soal sakit itu menggenang. Ku hisap lagi rokok kesekian, agar reda kedinginan. Sedang kau di sana rapih menyusun alur kebohongan. Agar paling tidak aku percaya padamu--yang bersikukuh masih ingin berpegang tangan.  "Hubungan ini salah, pergilah. Kapanpun kau suka. Aku tak apa." Kataku sambil memeras sore. "Aku masih mau di sini, bersamamu, melewati purnama yang tak pernah kita tau kapan muncul" Jawabmu sambil meremas malam.  Lalu sekian purnama telah gugur, kau masih dengannya dan kita masih bersama. Kita saling masih bertatap mata melalukan segalanya berdua. Meski kita tau, akan ada luka baru didepan sana. Ya, pada akhirnya. Kau akan memilih dia.  Jadi, kenapa aku harus ada?  -erwanekas

Jakarta itu menyenangkan sekaligus...

 Kita pernah membuat romansa di Jakarta, lewat susunan agenda yang selalu menyenangkan. Kita membuat itinerary kita sendiri ditengah tugas kuliah yang sialan. Dari utara sampai selatan; kita meninggalkan jejak di setiap pemberhentian.  Kau ingat malam di pinggir jalan Bulungan? sedikit gerimis kala itu. kau memakai hoodie hitam yang ternyata tak mampu menahan gigilnya udara.  "Aku mau wedang ronde" katamu. Sementara di balik awan dan pepohonan, Monas mengintip malu-malu; ia jadi bukti bahwa hangatnya kebersamaa kita bisa mengalahkan gigilnya udara. Sebelum tengah malam, kita menuju Kemang. Ada gudeg paling enak siap menyuplai tenaga diantara pertigaan kemang 1.  "Nasinya setengah aja ya, bu" katamu selalu. Dan selepas dini hari, kita kembali pada tempat masing-masing. Aku di Gandaria Jingga, kau di Perumahan Dokter. Kita sama-sama menanam rindu. Sama-sama memimpikan bisa bangun pagi bersama. Sama-sama bisa melihat sore dan pagi di teras rumah berdua.  Tapi lama-...

Hilang komunikasi

Aku benci saat tiba-tiba kita saling diam. Saling menjauh dan bahkan di internet kita seperti bocah di Timezone yang saling sikut dan berebut wahana permainan. Kita melupakan banyak scene di kepala. Membungkamnya dengan cara paling paksaa. Kita seolah saling memberi tanda "Jangan dekat-dekat!" Padahal rasanya, baru kemarin kita sedekat itu ya?  :) Kini tak kutemukan kau berseliweran di ponselku. Dan sejujurnya aku selalu memaksa diriku untuk tidak peduli dengan itu sebab kau memang tak terjangkau. Kau tak terengkuh, dan kau begitu jauh.  Lalu pada akhirnya, aku menyadari satu hal dari semua; bahwa mungkin memendam perasaan itu adalah cara paling romantis untuk mati pelan-pelan. Cara paling bijak untuk tidak lagi percaya dengan harapan. Dan kau tau apa yang paling kacau dari semua ini? Bahwa meski kita hilang komunikasi, kau malah datang di mimpi. Huh

Pujangga

 Namaku adalah manusia, Agamaku adalah cinta, Usiaku adalah dewasa, Kekasihku adalah fana, Yang dielu-elukan kehidupan, Yang dirindukan kematian, Dan hidup dari kesementaraan, Lalu mati dari riuhnya tepuk tangan. Jika nanti hari oenghakiman nanti itu terjadi, Ada yang bersaksi dengann senang hati, Berkata dihadapan seluruh makhluk bumi, Aku ingin bersandar padamu bukan pada ideologi -Erwanekas  Jakarta, 19 Oktober 2023

Menunggu

        Tentang kapan saya menunggunya? jawabannya; sampai saya ketahui bahwa bukan saya lagi yang menjadi tujuannya pulang. Iya, menyayanginya memang membuat saya terus menerus tersiksa, setiap malam terasa sesak di dada karena merindukannya, setiap malam melawan pikiran sendiri karena cemas akan kabarnya, setiap malam bertanya-tanya apakah besok perasaannya masih untuk saya atau tidak?. Namun saya tidak peduli, selama saya belum dengar dia mengucap pamit, selama itu pula saya rela bertahan dalam rasa sakit.     Akan saya perbaiki diri saya, agar dimatanya saya layak. Akan saya berusaha kebih keras, agar dimatanya saya pantas. Akan saya kuatkan hati saya, agar saya mampu menjadi penopang segala kesedihannya. Tapi, bagaimana bila bukan saya yang dipilih? Bagaimana bila bukan saya rumah  tempat dia menetap? Bagaimana bisa perasaannya bermuara pada seseorang yang lain? Saya akan berhenti menuggunya. Saya akan mengganti rasa sayang  menjadi doa-...

Pesan Untukmu

Gambar
Apa yang aku bilang ini mungkin terdengar terlalu naif sekaligus munafik. Jadi, kau bisa menghardik atau menoyor kepalaku. Tenang, aku tak akan marah. Dan ini untukmu, orang yang sempat ku beri tanda love di kontak ponselku.  ….. Aku peduli padamu. Tolong itu digaris-bawahi dulu. Aku sempat khawatir saat beberapa storymu. Bukan saat kau sedang hepi-hepi ya. Tapi saat kau didekati laki-laki lain, aku takut kau lagi-lagi salah pilih pasangan. Ya, aku tahu, aku juga salah satu penyumbang kesalahan terbesar dihidupmu.  Tapi… Why is it so hard to say? Aku tahu, diluar sana banyak sekali yang mengincarmu. Aku tahu banyak lelaki yang ingin masuk ke 24 jam waktumu. Yang aku belum tahu, bahkan mungkin kamu, adalah niatnya. Kau bisa saja menjadi pelampiasan atau tempat singgah. Kalau sobat Gen-Z bilang : dighosting Dan kita selalu gak mau itu terjadi kan? karna aku cukup mengenalmu, maka izinkan aku berpesan: Saat ada yang mendekatimu, ingatlah selalu kebrengsekanku. Ingatlah selalu pad...